Syiah adalah Yahudi
Syi’ah secara etimologi bahasa berarti pengikut, sekte dan golongan seseorang. Adapun menurut terminologi syariat bermakna: Mereka yang berkedok dengan slogan kecintaan kepada Ali bin Abi Thalib beserta anak cucunya bahwasanya Ali bin Abi Thalib lebih utama dari seluruh shahabat dan lebih berhak untuk memegang tampuk kepemimpinan kaum muslimin, demikian pula anak cucu sepeninggal beliau. (Al-Fishal Fil Milali Wal Ahwa Wan Nihal, 2/113, karya Ibnu Hazm). Sedang dalam istilah syara’, Syi’ah adalah suatu aliran yang timbul sejak masa pemerintahan Utsman bin Affan yang dipimpin oleh Abdullah bin Saba’ Al-Himyari.
Dedengkot / pendiri syiah adalah Abdullah bi Saba’ seorang tokoh yahudi munafik. Dia mengenalkan ajarannya secara terang-terangan dan menggalang massa untuk memproklamasikan bahwa kepemimpinan (imamah) sesudah Nabi Muhammad saw seharusnya jatuh ke tangan Ali bin Abi Thalib karena suatu nash (teks) Nabi saw. Menurut Abdullah bin Saba’, Khalifah Abu Bakar, Umar dan Utsman telah mengambil alih kedudukan tersebut. (Dalam Majmu’ Fatawa, 4/435,) Abdullah bi Shaba menampakkan sikap ekstrem di dalam memuliakan Ali, dengan suatu slogan bahwa Ali yang berhak menjadi imam (khalifah) dan ia adalah seorang yang ma’shum (terjaga dari segala dosa). Padahal yang maksum itu hanya Rasulullah selain rasul pasti punya salah walaupun sedikit.
Dalam ajaran sekte Syi’ah, sahabat Ali bin Abi Thalib -rodhiallahu’anhu- merupakan sosok pemimpin tertinggi yang anti salah alias ma’sum, sama halnya dengan para nabi dan rasul. Dalam ajaran sekte Syiah, dikenal pula dua orang “setan” (padahal mereka adalah sahabat Nabi yang mulia) yang merupakan musuh utama bagi mereka, yaitu Abu Bakar dan Umar -rodhiallahu’anhuma, Naudzubillah mereka mencaci para sahabat nabi yang mulia.
Keyakinan itu berkembang terus-menerus dari waktu ke waktu, sampai kepada"menuhankan Ali bin Abi Thalib RA. Berhubung hal itu suatu kebohongan, maka diambil suatu tindakan oleh Ali bin Abi Thalib, yaitu mereka dibakar, lalu sebagian dari mereka melarikan diri ke Madain. Pada periode abad pertama Hijriah, aliran Syi’ah belum menjelma menjadi aliran yang solid. Barulah pada abad kedua Hijriah, perkembangan Syiah sangat pesat bahkan mulai menjadi mainstream tersendiri. Pada waktu-waktu berikutnya, Syiah bahkan menjadi semacam keyakinan yang menjadi trend di kalangan generasi muda Islam, mengklaim menjadi tokoh pembaharu Islam, namun banyak dari pemikiran dan prinsip dasar keyakinan ini yang tidak sejalan dengan Islam itu sendiri. Kita wajib berhati-hati terhadap hal ini.
Lalu syiah sering juga disebut dengan karena mereka menolak keimaman (kepemimpinan) Abu Bakr dan Umar bahkan membencinya berlebihan. Dan dikatakan mereka dinamakan dengan Rafidhah karena mereka menolak agama Islam ini.
Dari segi AQIDAH, mereka telah terjerumus dalam kesyirikan sampai pada tingkatan yang orang jahiliyah dahulu pun tidak pernah melakukannya, contohnya: saat mereka menderita atau merasakan sakit yang hebat, maka yang mereka seru adalah Ali radhiyallohu ‘anhu bukannya Alloh Subhanahu wa Ta’ala. Mereka menyeru dengan berteriak: “Yaa Ali…yaa Ali!!!” Mereka melupakan Alloh. Naudzubillahi min dzalik.
Dari segi IBADAH, tata cara mereka beribadah selalu menyelisihi Ahlus Sunnah, contohnya banyak sekali, diantaranya:
- mereka akan adzan maghrib jika telah terbit bintang, dimana Ahlus Sunnah telah selesai menunaikan shalat maghrib dan mereka menambahi lafadz adzan dengan “Wa asyhadu anna ‘Aliyan waliyulloh= dan aku bersaksi bahwa ‘Ali adalah wali Alloh”,
- mereka shalat dzuhur dan ashar dengan jahr/suara keras dan selalu dijama’
- menurut mereka, bersedekap saat berdiri adalah membatalkan shalat,
- mereka sujud di atas batu Karbala yang mereka namakan turban dan meyakini kesuciannya serta keutamaannya,
- mereka tidak mengucapkan salam dan tidak menengok ke kanan dan atau ke kiri saat mengakhiri shalat tapi mereka hanya menepuk-nepukkan kedua tangannya pada kedua pahanya.
Hal-hal yang lainnya:
- Mereka meyakini tidak ada shalat jama’ah sebelum datangnya Imam Mahdi Al Muntadzar (yang ditunggu-tunggu, entah sampai kapan?) sehingga jika sekelompok orang dari mereka masuk ke masjid maka mereka akan shalat sendiri-sendiri dengan suara masing-masing walaupun dengan anak-anak mereka sendiri tidak akan mengajari anaknya untuk berjama’ah, mereka biarkan anak-anaknya melihat dan mengikuti apa yang mereka lakukan. Tidak ada imam, tidak ada ma’mum, maka mereka semua tidak akan shalat bershaf-shaf tetapi sendiri-sendiri.
- Muamalah mereka dengan non syi’ah kebanyakan baiknya hanyalah berpura-pura. Mereka sangat tidak suka jika melihat orang sunni yang menerapkan sunnah seperti memelihara jenggotnya seperti yang Rasululloh perintahkan. Kebanyakan akhlak mereka sangat tidak terpuji, seperti mudah marah, sombong dan tidak menghargai orang lain yang bukan syi’ah.
- Para pembesar/ulama mereka yang mereka juluki dengan SAYYID memiliki pakaian khusus ciri khas mereka yang orang umum tidak akan berani memakainya, yaitu jubah dan imamah/sorban berwarna hitam. Jika pembaca pernah melihat Sekjen Hizbulloh di Libanon sekarang ini, yaitu Hasan Nasrulloh atau lebih tepatnya bukan Hasan (baik) tapi Sayyi’ (jelek) seperti itulah contoh salah satu sayyid mereka. Padahal Rasululloh shalallohu ‘alaihi wasallam sebagai pemimpin umat bahkan sebagai manusia paling mulia pun tidak mempunyai pakaian atau atribut khusus, beliau sama dengan para shahabat sehingga saat ada seorang Arab Badui yang ingin menemui beliau pun tidak dapat mengenali beliau sehingga dia bertanya kepada kerumunan para shahabat yang saat itu bersama Rasululloh, orang Arab Badui tadi bertanya yang kurang lebih artinya: “Mana diantara kalian yang bernama Muhammad?” Hal ini karena beliau tidak memiliki pakaian khusus yang membedakan dari para shahabat. Lihatlah bedanya dengan sayyid-sayyid syiah itu, mereka seolah-olah menjadi manusia khusus. Ya, memang khusus dikalangan mereka.
- Penulis sering melihat ada kain berwarna hijau dililitkan pada orang yang sakit, pada bagian yang sakit ataupun juga dililitkan di salah satu tempat tidur. Ternyata warna hijau bagi mereka memiliki makna tersendiri yang sepertinya sebagai salah satu cara tolak bala, jika pembaca melihat mereka sangat suka menggantungkan kain warna hijau ini pada mobil mereka, bukan sekedar hiasan, tapi mereka mempunyai keyakinan tersendiri.
- Berikut sebagian nama keluarga besar syi’ah di Kuwait: BEHBEHANI, mereka ini memiliki bisnis beraneka ragam mulai dari dealer mobil, pengadaan alat-alat kedokteran dan keperluan RS serta beberapa toko, mirip seperti orang-orang Cina di Indonesia. AL SHARRAF, juga bergelut di bidang bisnis seperti elektronik dan kelistrikan (seperti gambar di atas yang kami dapatkan di Tunis Street, Hawally, Kuwait). AL QALLAF, AL MUSAWI, DLL kebanyakan juga sebagai pegawai pemerintah, pedagang/bisnis dan karyawan di perkantoran.
- Orang-orang syi’ah di Kuwait adalah berasal dari Iran, menurut beberapa shahabat, tidak ada syi’ah dari kabilah orang Kuwait asli, tapi mereka adalah pendatang yang kemudian menetap sampai banyak yang mendapatkan kewarganegaraan Kuwait.
- Warna hitam akan mendominasi pada hari Asyura (10 Muharram) dan kata mereka dalam rangka berkabung atas terbunuhnya Hussein radhiyallohu ‘anhu. Padahal menurut Rasululloh shalallohu ‘alaihi wa sallam, cucu beliau itu adalah salah satu pemimpin bagi pemuda ahli surga, maka kenapa mereka harus berduka berlebihan sampai-sampai mengucurkan darah dengan dipamerkan, padahal yang mengalir hanyalah darah tepi dari vena yang mudah berhenti, coba kalau mereka berani, harusnya kucurkan darah mereka dari pembuluh arteri pasti akan lebih banyak dan jangan tanggung-tanggung jika perlu dari urat lehernya yang paling besar, tapi mana ada yang mau??? Anda tahu di mana para sayyid mereka saat peringatan As Syura’ itu? Apakah mereka ikut bergabung dengan orang-orang yang berdarah-darah itu? Ternyata tidak! Mereka hanyalah menangis di masjid atau kalaupun keluar di kerumunan orang-orang yang berdarah-darah itu, mereka hanya akan menorehkan pisau atau pedang kepada para jama’ah atau anak-anaknya para jama’ah sebagai bentuk penghormatan atau tabarruk? Sementara mereka sendiri tidak berdarah-darah. Lihatlah betapa bodohnya, mau enaknya sendiri. Seharusnya para sayyid itulah yang paling banyak mengucurkan darah. Apakah ini juga kekhususan bagi mereka? Wallohu a’lam.
- Kebencian mereka kepada para shahabat Nabi tidak dapat dipungkiri. Banyak sekali ucapan-ucapan kotor sayyid-sayyid mereka bahkan selalu melaknati Abu Bakar dan Umar sampai-sampai dengan lancangnya ada salah seorang dari mereka yang mengatakan bahwa Abu Bakar dan Umar adalah penghuni neraka Jahanam yang paling bawah, kemudian baru Iblis dan Setan di atasnya. Darimana dia mendapatkan berita tersebut kalau bukan dari setan?
- Saking bencinya mereka kepada dua shahabat nabi yang mulia ini, yakni Abu Bakar dan Umar, maka bisa dipastikan diantara keluarga atau keturunan mereka Anda tidak akan menemukan yang namanya Abu Bakar, Umar ataupun Usman. Bagaimana tidak, lha wong ketiga manusia ahli surga tersebut adalah musuh besar mereka, naudzubillah. Jika ada diantara kita yang bernama Abu Bakar, Umar atau Usman mereka sangat geram, hal ini terbukti saat perang di Irak, sampai sekarang ini. Ada berita yang menyebutkan bahwa Ahlus Sunnah disana yang bernama tersebut, terpaksa mengganti nama mereka demi keselamatan dari pembantaian.
- Di kalangan wanitanya kita tidak akan mendapati seorang pun yang bernama Aisyah, isteri tercinta Nabi Shalallohu ‘alaihi wa sallam yang mereka tuduh telah berzina. Padahal Alloh sendiri langsung dari atas tujuh lapis langit yang mengkhabarkan bahwa berita dan tuduhan tersebut adalah bohong belaka. Kami mendapati kebanyakan para wanita mereka bernama: Maryam, Zainab dan Fatimah. Hanya 3 nama inilah yang terpopuler bagi mereka.
- Kami tidak pernah melihat mereka melakukan shalat sunnah rawatib, lha wong kalau shalat dijama’ terus, tiap hari. Tapi, barangkali tidak ada juga shalat syi’ah rawatib bagi mereka, ya???
- Jika salah seorang dari mereka mati, maka saat membungkus mayatnya, para keluarga tidak akan membolehkan jika kedua tangan mayat tersebut disedekapkan.
- Walhamdulillah, pemerintah Kuwait telah memisahkan kuburan untuk orang-orang sunni dan syi’ah sehingga jika ada mayat yang akan dikuburkan, pada saat mengurus surat penguburan jenazah maka petugas Public Relation Officer (Humas) akan menanyakan: “(Jenazahnya) Sunni apa Syi’ah?” Hal ini penulis dengar dan menyaksikan langsung.
0 Response to "Syiah adalah Yahudi"
Post a Comment